Rapid test, swab, dan PCR istilah yang pada saat ini sering kita dengar dan membuat kita deg deg-an saat menunggu hasilnya. Ketika hasil yang didapatkan adalah negatif, kita bersujud syukur bahwa kita masih diberikan kesempatan untuk sehat. Lain ceritanya ketika hasil tes yang didapatkan adalah terpapar positif. Berbagai reaksi dan kecemasan muncul saat mengetahui bahwa hasil dari tes swab ternyata terpapar positif. Yaaa...kecemasan dari berbagai hal, dari yang tidak bisa bekerja, ketakutan dikucilkan dari lingkungan sekitar, harus berpisah sementara dengan keluarganya, biaya yang tidak sedikit untuk memenuhi kebutuhan saat karantina mandiri hingga ketakutan bahwa apakah bisa melewati masa masa kritis tersebut. Sungguh terasa sangat berat !
Kecemasan dan ketakutan tersebut kami rasakan saat keluarga kakak terpapar. Dimana istri kakak harus masuk ruang ICU, kakak karantina mandiri dirumah, dan keponakan yang hasil tes swab negatif, sementara tinggal bersama kami. Selama melewati masa kritis tersebut, kami harus menguatkan seorang anak laki laki yang berumur belasan tahun. Seorang anak SMA yang setiap hari harus siaga di hubungi oleh pihak rumah sakit, yang memaksa untuk paham membaca rekam medis mama-nya, yang sudah berani mengambil keputusan bertanggung jawab dengan menyetujui tindakan yang dilakukan oleh rumah sakit. Belum lagi setiap harinya memenuhi segala kebutuhan bapak-nya yang di rumah. capek ? lelah ? Itu yang kami pikirkan. Ternyata dugaan kami salah besar, keponakan kami dengan tegas dan lantang menjawab “Aku bisa dan aku siap melewati semua ini, aku ada untuk bapak dan mamah“. Pandemi yang menguatkan, pandemi yang mendewasakan, itu yang seketika kami pahami sesaat keponakan kami selesai berujar.
Dalam menemani masa kritis kakak, kami pun harus siap siaga dengan kebutuhan yang mendadak dan serba cepat. Terlebih kebutuhan akan obat, vitamin, oksigen di mana semua apotek dan toko alat kesehatan banyak yang stock nya kosong. Pada saat itu, kami meyakini bahwa deretan nama yang ada didaftar nomor telepon adalah malaikat tak bersayap bagi kami.
Kami berusaha bertanya dan mencari informasi kepada mereka. Syukur kepada Allah.....pertolongan dan bantuan kami dapatkan. Pandemi yang telah melahirkan malaikat malaikat tak bersayap hadir dalam kehidupan.
Dilingkungan kami tinggal, beberapa tetangga merasakan pesimis, merasa tidak ada harapan untuk bangkit kembali pada masa pandemi ini. Banyak yang menggantungkan hidupnya pada sektor swasta yang pada akhirnya terpaksa ditutup. Beberapa tetangga harus beralih pekerjaan demi kelanjutan hidup. Dan beberapa tetangga juga tidak tahu harus melakukan pekerjaan apa, karena memang tidak dipungkiri susahnya mencari pemasukan pada masa seperti ini. Namun ada yang menarik ketika ada beberapa tetangga dengan alat yang seadanya, tidak memerlukan biaya mahal, dengan informasi yang didapatkan dari internet, menggunakan sisa ruang rumah semakin kreatif dan berinovasi. Ada yang budidaya tanaman hidroponik, ada yang budidaya lele dan tanaman kangkung di dalam ember, ada yang semakin pintar dan inovasi mengolah makanan, ada yang budidaya ikan hias, ada yang mendadak bercocok tanam. Hasil akhir dari semua usaha adalah dipasarkan dengan harapan untuk bertahan hidup. Pandemi yang melahirkan orang orang kreatif, inovatif dan solutif.
Beberapa saudara dan sahabat kami yang merupakan tenaga kesehatan, sudah merasakan kelelahan yang sangat luar biasa. Satu per satu kesehatan mereka menurun, tetapi demi pelayanan kemanusiaan, mereka tetap melayani pasien yang sudah memenuhi ruang kamar rumah sakit di mana mereka mengabdi. Setiap hari pesan selular pribadi kami selalu menanyakan kondisi mereka. Kata yang singkat “ Sehat kan? “ pada masa sekarang ini bermakna sangat dalam, bukan sekedar basa basi sebuah kata pembuka percakapan.
Sehat sangat mahal harganya. Sering dalam pesan pribadi maupun dalam Whatsapp group percakapan selalu diakhiri dengan “ Salam Sehat “ atau dengan bahasa yang lebih akrab “sehat selalu yaaa “. Saling bersinergi dan saling menjaga. Menjaga untuk sama sama sehat dan sama sama disiplin menjalankan protokol kesehatan.
Disiplin menerapkan protokol kesehatan dalam era new normal. Pakai Masker, Cuci Tangan, Hindari Keramaian, Kurangi Mobilitas, Hindari Sentuh Wajah, Tingkatkan Daya Tahan Tubuh, Istirahat Yang Cukup, Jaga Kesehatan dan yang tidak boleh terlupakan adalah Tetap Berdoa Memohon Perlindungan dan Selalu Berpengharapan.
Mengeluh, bersungut sungut maupun melakukan aksi protes kesana kemari tidak akan merubah keadaan. Lebih lebih dengan menyebarkan pemikiran yang menyesatkan, menyebarkan berita yang tidak jelas sumbernya, yang berasal dari “ katanya.....”. Yang akan terjadi hanyalah situasi yang semakin tidak bersahabat. Jangan membagikan pesan yang mengandung kebencian. Kebencian yang tidak terkendali akan semakin menumpulkan logika yang sehat. Memang bukan perkara yang mudah dalam melewati masa pandemi ini. Tetapi tidak ada hal yang tidak bisa.
Mari kita saling membagikan semangat yang positif, berbagi optimisme, berbagi pesan yang menginspirasi, pesan yang mencerdaskan, pesan yang menyejukkan. Pengaruhnya akan sangat terasa sekali, meskipun dalam lingkup terkecil kita. Saling merangkul dan saling nyengkuyung. Kita akan merasakan bahwa kita tidak sendirian dalam menghadapi masa sulit ini. Menyalakan empati akan lebih memudahkan kita untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, membayangkan apa yang dialami oleh orang lain, dan melihat sesuatu dari kacamata orang lain.
Kita semua merindukan bisa melepas masker, berkumpul dan bercerita, makan bersama, melakukan kegiatan bersama, melakukan perjalanan tanpa disertai rasa was was dan ketakutan. Kerinduan tersebut akan bisa kita nikmati kembali apabila masing masing dari kita mempunyai rasa empati untuk saling menjaga harapan kehidupan kita. Kita bersama sama mempunyai tanggung jawab yang besar untuk memulihkan bumi ini. Saatnya kita bersama menyalakan empati dalam diri kita. Empati akan menggerakkan rasa saling tolong menolong.
Empati yang sudah menyala bisa dilihat dari sekitar kita, disaat puncak pandemi sekarang ini. “Jogo tonggo“ yang semakin tinggi, bahkan ada yang menyediakan makanan gratis bagi saudara saudara kita yang sedang isolasi mandiri. Beberapa komunitas melayani kunjungan bagi orang tua yang membutuhkan bantuan untuk dimandikan maupun cek kondisi tubuh pada saat isolasi mandiri. Komunitas yang melayani doa untuk pemulihan kesehatan. Semakin bertambahnya relawan pemulasaraan jenazah. Penjual tabung oksigen dan isi ulang oksigen yang masih melayani dengan harga wajar. Penjual masker, obat maupun vitamin yang tidak menaikkan harga. Mereka yang dengan sukacita memberikan berbagai informasi darurat yang dibutuhkan, seperti kesediaan ruang kamar rumah sakit, ambulans, apotek yang masih ada stock obat dan vitamin, tempat yang menyediakan tabung maupun isi ulang gas oksigen. Tidak sedikit pula orang yang meminjamkan tabung oksigen secara gratis. Bahkan mereka yang mempunyai ijasah tenaga kesehatan merelakan kesempatan tidak mengikuti seleksi ASN dan memilih menjadi relawan tenaga kesehatan.
Doa dan peluk yang sangat erat bagi mereka yang saat ini sedang berjuang merawat dan menyembuhkan, bagi mereka yang sedang merasakan kehilangan, bagi mereka yang sedang menjalani isolasi mandiri dan terpisah dengan keluarganya, bagi yang sedang mencemaskan kondisi orang orang terdekat. Terlebih doa bagi mereka yang masih keluar rumah untuk mencari nafkah di tengah ketidakpastian. Dan doa bagi mereka yang masih bertahan dirumah tidak pergi ke mana mana dengan perasaan yang campur aduk tidak menentu.
Disiplin melakukan protokol kesehatan dan menyalakan empati yang telah kita bangun, mari kita lengkapi dengan mengikuti program pemerintah yaitu dengan melakukan vaksinasi. Karna vaksinasi juga penting, salah satu harapan untuk mengakhiri pandemi ini. Sudah banyak dibuka sentra vaksin dengan jumlah kuota yang setiap harinya mencapai ribuan. Kemudahan untuk memperoleh vaksin yang masih diberikan secara gratis oleh pemerintah, dimana bisa memilih sentra vaksin menyesuaikan jarak terdekat dengan tempat tinggal. Vaksin terbukti mampu memperkuat imun tubuh dan mencegah penularan virus. Abaikan informasi yang mengatakan bahwa vaksin tidaklah penting, yang mengatakan pengaruh efek vaksin akan berdampak buruk bagi tubuh, ada pula yang menyebarkan informasi bahwa vaksin bagian dari sebuah kepentingan tertentu. Memang secara fakta, negara kita belum mampu memproduksi vaksin secara mandiri, negara kita masih mengimpor vaksin dari negara lain.
Adalah tugas kita bersama untuk mengakhiri pandemi ini. Tugas pemerintah yang menyediakan vaksin bagi kita, dan tugas kita mengikuti apa yang telah disediakan oleh pemerintah dan mau divaksin agar bisa tercipta kekebalan kelompok. Kekebalan kelompok bukanlah impian tanpa bukti. Target dan harapan ini membutuhkan perjuangan bersama. Perlindungan daya tahan individu yang ditimbulkan oleh vaksin maupun yang dialami oleh para penyintas covid adalah perlindungan yang sangat berharga bagi diri sendiri maupun lingkungan terkecilnya, seperti keluarga. Menyelamatkan orang tua dan lansia yang ada di sekitar kita. Melindungi anak anak yang bertumbuh kembang dan menempuh perjalanan hidup yang masih akan sangat panjang.
Pada saatnya nanti kerinduan kita akan terbayarkan dan terangkai sebuah kenangan yang tak akan terhapus oleh jejak bahwa pandemi itu menguatkan, pandemi itu mendewasakan, pandemi itu melahirkan malaikat malaikat tak bersayap hadir dalam kehidupan, pandemi itu melahirkan orang orang kreatif, inovatif dan solutif. Dan pandemi itu berjuang bersama untuk menyalakan empati dan menjaga harapan.