Sabtu, 30 Oktober 2021

Pelayanan atau Si Mulut Besar

Arti kata pelayanan (serve) di dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah : 1. perihal atau cara melayani. 2. usaha melayani kebutuhan orang lain dng memperoleh imbalan (uang) / jasa 3. kemudahan yg diberikan sehubungan dengan jual beli barang atau jasa. Kalau diperusahaan yang bergerak di bidang usaha / jasa ya wajib hukumnya untuk selalu melayani konsumen atau klien bak seorang Raja.

Ya itu sah didalam dunia bisnis. Karena uang yang didapat untuk memajukan perusahaan tersebut. Ada satu hal yang menarik ketika pelayanan itu ada unsur sosial dan sangat berbau hubungan Tuhan dan umatnya. Misalnya sangat berbeda apabila pelayanan sosial unsur/basis agama dengan pelayanan sosial masyarakat yang notabene lebih luas artinya. Secara garis besar apapaun bentuk pelayanan tersebut tapi tidak didasari dengan enjoy,fun dan ikhlas. Maka hal tersebut akan sangat menyiksa batin dan hati. Mungkin sepele tapi kalau hal yang berbau unsur pelayanan sosial berbasis agama, maka itu akan menjadi boomerang atau sakit hati yang mendalam.

Kata sakti itu yang selalu diutarakan oleh teman saya. Dijadikan sakti karena mungkin kita berbeda persepsi soal kata “PELAYANAN”, dan takutnya kata tersebut akan menjadi batu sandungan hubungan antar manusia atau persahabatan. Ucapan dan tindakan bisa menjadi senjata makan tuan, bila selalu berdalih soal pelayanan sosial berbasis agama. Siapa sich yang ngak mau surga? hanya orang bodoh bukan. Tapi saya yakin dengan hal tersebut, semoaga akan mendewasakan semua orang. Kalau sudah kecil sudah seperti itu, kata orang Jawa ya berarti itu " Gawan bayi atau orok"...wah memang unik kalau begitu. 

Petinju kelas berat legendaries  Muhammad Ali, pada eranya selalu mengutarakan mulut sebagai perangnya sebelum bertanding di ring tinju. Maka dia dikenal dengan “Big Mouth” alias Si Mulut Besar Tapi saya yakin sebetulnya Ali punya maksud dibalik itu semua. Promo dan ingin dunia Internasional selalu mengekspos pertandingannya. Alhasil Ali kebetulan sangat berjaya dan menjadi Juara Dunia di dunia tinju kelas berat. 

Jadi kesimpulannya Si Mulut Besar “Ali” ternyata berkualitas, daripada Si Mulut Besar yang akan menghasilkan sedikit gesekan-gesekan yang lama-lama akan menjadi putus tanpa menunjukkan kualitas apapun. Maka kata adalah ucapan, dan tulisan ada pedang. Bisa menjadi sumber segalanya. Semoga saya bukan Si Mulut Besar tapi berhati besar untuk selalu menerima dengan keunikan teman saya tersebut.


Ketika Kesehatan Menjadi Panglima

 

“Berpikir mengenai trade-off antara kesehatan dan ekonomi saat ini tidaklah tepat. Pilihannya adalah mengambil langkah-langkah yang cukup ekstrem sekarang, atau mengambil 
langkah-langkah yang sangat ekstrem nanti” 
~ Jason Furman 
(Mantan ketua Dewan Penasihat Ekonomi Presiden Barack Obama).


Pola pikir ekonomi, secara alamiah dipengaruhi oleh konsep trade-off dan marjinal. Trade-off adalah konsep bila kita memilih satu hal maka kita harus melepas hal lain, atau bila ingin menambah sesuatu harus mengurangi yang lain. Nalar ekonomi makro menyatakan, pilihan haruslah membuat kondisi ekonomi menjadi semakin baik dan tumbuh. Secara logika, ketika pandemi COVID-19 melanda Indonesia dan ekonomi mengalami penciutan besar, maka harusnya program-program yang diselamatkan adalah investasi, UMKM, pembangunan infrastruktur dan sektor-sektor yang mendukung pemulihan ekonomi.

Namun apa yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah? Ganjar Pranowo memutuskan memberikan setidaknya 4,95% APBD Jawa Tengah untuk penanganan COVID-19. Persentase yang lebih tinggi dari yang disediakan DKI Jakarta yaitu 3,41%. Walau pun secara nominal 1,4 triliun rupiah masih di bawah Jawa Barat dan DKI Jakarta, hal ini wajar karena APBD Jawa Tengah hanya sebesar 28,3 triliun rupiah. Pilihan alokasi ini tidak mudah dan bahkan masih terus diperdebatkan di tingkat Nasional.

Logika ekonomi apa yang digunakan dalam pilihan ini? Banyak ekonom menyatakan bahwa pada masa pandemi, nalar ekonomi mengenai pertukaran antara ekonomi dan kesehatan tidak dapat digunakan karena menyangkut nyawa manusia. Kehilangan nyawa tidak bisa dibandingkan dengan biaya ekonomi. Kehilangan sumber daya manusia – belum tentu dalam bentuk orang meninggal - memberikan potential loss yang sangat besar. Teori lain yang bisa digunakan untuk menjelaskan adalah Smithian yang dikembangkan Adam Smith dan Keynesian yang dikembangkan J.M Keynes. Adam Sminth menyatakan ada dua guncangan penawaran yang berpengaruh pada ekonomi yaitu penurunan jumlah tenaga kerja dan gangguan rantai pasok. Pandemi dapat mengakibatkan kematian sehingga penawaran tenaga kerja turun. Karantina wilayah karena pandemi juga memicu kepanikan serta memengaruhi rantai pasok baik domestik maupun luar negeri. Di sisi lain, Keynesian melihat menyoroti adanya guncangan permintaan. Sebagian besar masyarakat tidak bisa bekerja dan mengalami penurunan daya beli.

Pandemi COVID-19 saat ini menyebabkan terjadinya guncangan baik dari sisi penawaran maupun permintaan yang bila tidak diintervensi di sisi kesehatan, maka justru akan menyebabkan kerusakan yang lebih dalam.

Pilihan Jawa Tengah adalah tepat. Jangka pendek pemerintah harus memberikan prioritas pada kesehatan, namun tetap memberikan stimulus fiskal dalam jumlah yang lebih kecil untuk memberi penguatan kepada rumah tangga miskin dan rentan. Bantuan tunai langsung, bantuan pangan, maupun subsidi listrik, serta realokasi APB Desa dalam bentuk Dana Padat Karya Tunai akan menjadi jaring penyelamat ekonomi.

Pilihan kebijakan dan stimulus yang sudah digulirkan, diharapkan akan bergerak ke arah yang benar. Pekerjaan rumah berikutnya bagi Pemerintah Jawa Tengah adalah menetapkan penerima stimulus fiskal secara tepat sasaran.

Harmonisasi – gotong royong - seluruh unsur di Jawa Tengah menjadi penting. Kematangan pengambilan keputusan dan komunikasi yang efektif dan sampai pada level terbawah harus terus dilakukan.

Ketika Jawa Tengah sudah memilih kesehatan sebagai panglima, biarlah ekonomi menjadi pengikutnya. Kita masih akan berlari panjang. Jangan kehabisan nafas dalam “peperangan” ini.

Menjaga Harapan


Rapid test, swab, dan PCR istilah yang pada saat ini sering kita dengar dan membuat kita deg deg-an saat menunggu hasilnya. Ketika hasil yang didapatkan adalah negatif, kita bersujud syukur bahwa kita masih diberikan kesempatan untuk sehat. Lain ceritanya ketika hasil tes yang didapatkan adalah terpapar positif. Berbagai reaksi dan kecemasan muncul saat mengetahui bahwa hasil dari tes swab ternyata terpapar positif. Yaaa...kecemasan dari berbagai hal, dari yang tidak bisa bekerja, ketakutan dikucilkan dari lingkungan sekitar, harus berpisah sementara dengan keluarganya, biaya yang tidak sedikit untuk memenuhi kebutuhan saat karantina mandiri hingga ketakutan bahwa apakah bisa melewati masa masa kritis tersebut. Sungguh terasa sangat berat !

Kecemasan dan ketakutan tersebut kami rasakan saat keluarga kakak terpapar. Dimana istri kakak harus masuk ruang ICU, kakak karantina mandiri dirumah, dan keponakan yang hasil tes swab negatif, sementara tinggal bersama kami. Selama melewati masa kritis tersebut, kami harus menguatkan seorang anak laki laki yang berumur belasan tahun. Seorang anak SMA yang setiap hari harus siaga di hubungi oleh pihak rumah sakit, yang memaksa untuk paham membaca rekam medis mama-nya, yang sudah berani mengambil keputusan bertanggung jawab dengan menyetujui tindakan yang dilakukan oleh rumah sakit. Belum lagi setiap harinya memenuhi segala kebutuhan bapak-nya yang di rumah. capek ? lelah ? Itu yang kami pikirkan. Ternyata dugaan kami salah besar, keponakan kami dengan tegas dan lantang menjawab “Aku bisa dan aku siap melewati semua ini, aku ada untuk bapak dan mamah“. Pandemi yang menguatkan, pandemi yang mendewasakan, itu yang seketika kami pahami sesaat keponakan kami selesai berujar.

Dalam menemani masa kritis kakak, kami pun harus siap siaga dengan kebutuhan yang mendadak dan serba cepat. Terlebih kebutuhan akan obat, vitamin, oksigen di mana semua apotek dan toko alat kesehatan banyak yang stock nya kosong. Pada saat itu, kami meyakini bahwa deretan nama yang ada didaftar nomor telepon adalah malaikat tak bersayap bagi kami.
Kami berusaha bertanya dan mencari informasi kepada mereka. Syukur kepada Allah.....pertolongan dan bantuan kami dapatkan. Pandemi yang telah melahirkan malaikat malaikat tak bersayap hadir dalam kehidupan.

Dilingkungan kami tinggal, beberapa tetangga merasakan pesimis, merasa tidak ada harapan untuk bangkit kembali pada masa pandemi ini. Banyak yang menggantungkan hidupnya pada sektor swasta yang pada akhirnya terpaksa ditutup. Beberapa tetangga harus beralih pekerjaan demi kelanjutan hidup. Dan beberapa tetangga juga tidak tahu harus melakukan pekerjaan apa, karena memang tidak dipungkiri susahnya mencari pemasukan pada masa seperti ini. Namun ada yang menarik ketika ada beberapa tetangga dengan alat yang seadanya, tidak memerlukan biaya mahal, dengan informasi yang didapatkan dari internet, menggunakan sisa ruang rumah semakin kreatif dan berinovasi. Ada yang budidaya tanaman hidroponik, ada yang budidaya lele dan tanaman kangkung di dalam ember, ada yang semakin pintar dan inovasi mengolah makanan, ada yang budidaya ikan hias, ada yang mendadak bercocok tanam. Hasil akhir dari semua usaha adalah dipasarkan dengan harapan untuk bertahan hidup. Pandemi yang melahirkan orang orang kreatif, inovatif dan solutif.

Beberapa saudara dan sahabat kami yang merupakan tenaga kesehatan, sudah merasakan kelelahan yang sangat luar biasa. Satu per satu kesehatan mereka menurun, tetapi demi pelayanan kemanusiaan, mereka tetap melayani pasien yang sudah memenuhi ruang kamar rumah sakit di mana mereka mengabdi. Setiap hari pesan selular pribadi kami selalu menanyakan kondisi mereka. Kata yang singkat “ Sehat kan? “ pada masa sekarang ini bermakna sangat dalam, bukan sekedar basa basi sebuah kata pembuka percakapan.

Sehat sangat mahal harganya. Sering dalam pesan pribadi maupun dalam Whatsapp group percakapan selalu diakhiri dengan “ Salam Sehat “ atau dengan bahasa yang lebih akrab “sehat selalu yaaa “. Saling bersinergi dan saling menjaga. Menjaga untuk sama sama sehat dan sama sama disiplin menjalankan protokol kesehatan.

Disiplin menerapkan protokol kesehatan dalam era new normal. Pakai Masker, Cuci Tangan, Hindari Keramaian, Kurangi Mobilitas, Hindari Sentuh Wajah, Tingkatkan Daya Tahan Tubuh, Istirahat Yang Cukup, Jaga Kesehatan dan yang tidak boleh terlupakan adalah Tetap Berdoa Memohon Perlindungan dan Selalu Berpengharapan.

Mengeluh, bersungut sungut maupun melakukan aksi protes kesana kemari tidak akan merubah keadaan. Lebih lebih dengan menyebarkan pemikiran yang menyesatkan, menyebarkan berita yang tidak jelas sumbernya, yang berasal dari “ katanya.....”. Yang akan terjadi hanyalah situasi yang semakin tidak bersahabat. Jangan membagikan pesan yang mengandung kebencian. Kebencian yang tidak terkendali akan semakin menumpulkan logika yang sehat. Memang bukan perkara yang mudah dalam melewati masa pandemi ini. Tetapi tidak ada hal yang tidak bisa.

Mari kita saling membagikan semangat yang positif, berbagi optimisme, berbagi pesan yang menginspirasi, pesan yang mencerdaskan, pesan yang menyejukkan. Pengaruhnya akan sangat terasa sekali, meskipun dalam lingkup terkecil kita. Saling merangkul dan saling nyengkuyung. Kita akan merasakan bahwa kita tidak sendirian dalam menghadapi masa sulit ini. Menyalakan empati akan lebih memudahkan kita untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, membayangkan apa yang dialami oleh orang lain, dan melihat sesuatu dari kacamata orang lain.

Kita semua merindukan bisa melepas masker, berkumpul dan bercerita, makan bersama, melakukan kegiatan bersama, melakukan perjalanan tanpa disertai rasa was was dan ketakutan. Kerinduan tersebut akan bisa kita nikmati kembali apabila masing masing dari kita mempunyai rasa empati untuk saling menjaga harapan kehidupan kita. Kita bersama sama mempunyai tanggung jawab yang besar untuk memulihkan bumi ini. Saatnya kita bersama menyalakan empati dalam diri kita. Empati akan menggerakkan rasa saling tolong menolong.

Empati yang sudah menyala bisa dilihat dari sekitar kita, disaat puncak pandemi sekarang ini. “Jogo tonggo“ yang semakin tinggi, bahkan ada yang menyediakan makanan gratis bagi saudara saudara kita yang sedang isolasi mandiri. Beberapa komunitas melayani kunjungan bagi orang tua yang membutuhkan bantuan untuk dimandikan maupun cek kondisi tubuh pada saat isolasi mandiri. Komunitas yang melayani doa untuk pemulihan kesehatan. Semakin bertambahnya relawan pemulasaraan jenazah. Penjual tabung oksigen dan isi ulang oksigen yang masih melayani dengan harga wajar. Penjual masker, obat maupun vitamin yang tidak menaikkan harga. Mereka yang dengan sukacita memberikan berbagai informasi darurat yang dibutuhkan, seperti kesediaan ruang kamar rumah sakit, ambulans, apotek yang masih ada stock obat dan vitamin, tempat yang menyediakan tabung maupun isi ulang gas oksigen. Tidak sedikit pula orang yang meminjamkan tabung oksigen secara gratis. Bahkan mereka yang mempunyai ijasah tenaga kesehatan merelakan kesempatan tidak mengikuti seleksi ASN dan memilih menjadi relawan tenaga kesehatan.

Doa dan peluk yang sangat erat bagi mereka yang saat ini sedang berjuang merawat dan menyembuhkan, bagi mereka yang sedang merasakan kehilangan, bagi mereka yang sedang menjalani isolasi mandiri dan terpisah dengan keluarganya, bagi yang sedang mencemaskan kondisi orang orang terdekat. Terlebih doa bagi mereka yang masih keluar rumah untuk mencari nafkah di tengah ketidakpastian. Dan doa bagi mereka yang masih bertahan dirumah tidak pergi ke mana mana dengan perasaan yang campur aduk tidak menentu.

Disiplin melakukan protokol kesehatan dan menyalakan empati yang telah kita bangun, mari kita lengkapi dengan mengikuti program pemerintah yaitu dengan melakukan vaksinasi. Karna vaksinasi juga penting, salah satu harapan untuk mengakhiri pandemi ini. Sudah banyak dibuka sentra vaksin dengan jumlah kuota yang setiap harinya mencapai ribuan. Kemudahan untuk memperoleh vaksin yang masih diberikan secara gratis oleh pemerintah, dimana bisa memilih sentra vaksin menyesuaikan jarak terdekat dengan tempat tinggal. Vaksin terbukti mampu memperkuat imun tubuh dan mencegah penularan virus. Abaikan informasi yang mengatakan bahwa vaksin tidaklah penting, yang mengatakan pengaruh efek vaksin akan berdampak buruk bagi tubuh, ada pula yang menyebarkan informasi bahwa vaksin bagian dari sebuah kepentingan tertentu. Memang secara fakta, negara kita belum mampu memproduksi vaksin secara mandiri, negara kita masih mengimpor vaksin dari negara lain.

Adalah tugas kita bersama untuk mengakhiri pandemi ini. Tugas pemerintah yang menyediakan vaksin bagi kita, dan tugas kita mengikuti apa yang telah disediakan oleh pemerintah dan mau divaksin agar bisa tercipta kekebalan kelompok. Kekebalan kelompok bukanlah impian tanpa bukti. Target dan harapan ini membutuhkan perjuangan bersama. Perlindungan daya tahan individu yang ditimbulkan oleh vaksin maupun yang dialami oleh para penyintas covid adalah perlindungan yang sangat berharga bagi diri sendiri maupun lingkungan terkecilnya, seperti keluarga. Menyelamatkan orang tua dan lansia yang ada di sekitar kita. Melindungi anak anak yang bertumbuh kembang dan menempuh perjalanan hidup yang masih akan sangat panjang.

Pada saatnya nanti kerinduan kita akan terbayarkan dan terangkai sebuah kenangan yang tak akan terhapus oleh jejak bahwa pandemi itu menguatkan, pandemi itu mendewasakan, pandemi itu melahirkan malaikat malaikat tak bersayap hadir dalam kehidupan, pandemi itu melahirkan orang orang kreatif, inovatif dan solutif. Dan pandemi itu berjuang bersama untuk menyalakan empati dan menjaga harapan.

Sruput Teh Nasgitel


Eiii..kita sudah mulai masuk di penghujung tahun dan musim penghujan telah tiba. Heemm..saatnya minum teh hangat ditemani kudapan ketela goreng. Ngomong-ngomong soal teh yang pasti yang harus Nasgitel. Di angkringan Solo dan Yogja menu teh itu menjadi hukum wajib. Sayang di Semarang menu teh bercita rasa beda alias kurang nikmat menurut saya. Yuk kita kulik sedikit mengenai teh wasgintel itu.

Masuknya Teh

Sejarah teh Indonesia pertama kali di mulai pada abad ke-17, tepatnya di tahun 1684. Pada tahun itu, Andreas Cleyer membawa masuk biji teh sinensis ke Jakarta. Yang menarik, pada awalnya tanaman ini dibawa untuk dijadikan tanaman hias. Fakta ini juga diperkuat oleh pengakuan dari F. Valentijn yang melaporkan bahwa dirinya melihat tanaman teh di halaman rumah gubernur jenderal VOC pada tahun 1694.

Kebun Raya Bogor yang telah dibangun pada tahun 1817 juga akhirnya melengkapi koleksi tanaman dengan teh pada tahun 1826. Pada tahun 1827 dimulai lah penanaman teh sinensis dalam skala luas di Wanayasa dan Gunung Raung.

Melihat kesuksesan dari penanaman di tahun 1827 ini, akhirnya perkebunan teh skala besar mulai dibangun di berbagai wilayah Pulau Jawa. Pelopor dari penanaman ini adalah Jacobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh berkebangsaan Belanda. Teh ini sendiri menjadi salah satu jenis tanaman yang masuk ke dalam program cultuurstelsel atau lebih akrab dikenal dengan istilah tanam paksa di tahun 1830.

Sebelum ada tanaman teh di Indonesia, teh yang dikonsumsi di Tegal didatangkan langsung dari Cina. Setelah tanaman tehmasuk ke Indonesia, produk teh yang berkualitas sebagian besar diekspor ke Belanda dan Eropa, sementara teh sisa yang mutunya rendah diambil oleh para pekerja pribumi. Kondisi tersebut membentuk selera konsumsi masyarakat Tegal terhadap teh. Sampai sekarang mereka terbiasa meminum teh yang sepat dan pekat. Rasa sepat pada teh berasal dari batang teh yang ikut digiling bersama dengan daun teh sehingga menghasilkan teh berkualitas rendah. 

Dalam perkembangan selanjutnya, teh di Tegal kemudian diolah dengan aroma bunga melati agar lebih enak dinikmati. Teh yang ada di Tegal ini diminum dengan menggunakan poci yang terbuat dari tanah liat dengan ukuran personal. Satu teko hanya untuk 2 cangkir saja. Keunikan teh poci adalah sebelum digunakan, poci teh direbus dulu bersama dengan air teh untuk menghilangkan bau tanah. Untuk membersihkan poci, tidak perlu digunakan sabun, cukup dibilas saja. Jika ada kerak yang mengempel pada poci juga sebaiknya jangan dibuang, karena rasa khas poci akan timbul dari kerak tersebut. Selain itu, gula pada teh poci menggunakan gula batu dan tidak boleh diaduk, melainkan cukup digoyangkan sedikit cangkirnya. Hal ini memiliki filosofi tersendiri yaitu hidup ini awalnya memang pahit,namun kita harus bersabar,sehingga di akhir nanti kita akan mendapatkan manisnya.

Angkringan dan Teh

Budaya di kota Jogja atau Solo juga mirip dengan di Tegal. Setiap malam, terutama sepanjang jalan kota atau gang kecil kampung, akan terlihat banyak sekali tempat-tempat minum teh yang biasa disebut “angkringan“. Masyarakat dari berbagai kalangan dan status sosial seperti pengemudi ojol, becak, pedagang asongan, seniman dan pelajar/mahasiswa, tak segan-segan berkumpul dan mengobrol dengan santainya di tempat ini. Angkringan ini awalnya hanya tempat untuk minum teh sambil mengaso, tetapi pada perkembangannya, angkringan juga berfungsi sebagai warung makan sekaligus tempat bersantai. Walaupun sudah tersedia aneka macam makanan dan minuman,“wedangteh” tetap menjadi menu utama dari angkringan ini. 

Minuman teh yg menjadi favorit para pengunjung adalah “Nasgitel”, kepanjangan dari “panas-legi-kenthel” atau panas-manis dan kental”. Nasgitel menggunakan “teh merah” atau “teh hitam” yang dipadu dengan “gula batu” yang sangat manis. Penyajiannya biasanya berupa kotokan (daun teh kering) yang diseduh dengan air mendidih, disajikan dalam gelas plus beberapa butir gula batu yang disajikan terpisah. Setelah seduhan teh dihidangkan, pelanggan biasanya segera mencemplungkan gula batu kedalamnya. Proses ini sampai dengan wedang teh siap diminum memerlukan waktu sekitar 10 menit, sambil menunggu biasanya pelangganakan menikmati makanan kecil seperti ketela goreng, pisang goreng, singkong rebus, uli (juadah) dan lain sebagainya.

Resep merk teh rahasia angkringan dari berbagai sumber :
  • Varian 1 = sintren, gopek, nyapu
  • Varian 2 = sintren, nyapu, 999
  • Varian 3 = sintren, dandang, gopek
  • Varian 4 = sintren, dandang, poci
  • Varian 5 = sintren, dandang,999
  • Varian 6 = sintren, nyapu, gardoe
  • Varian 7 = sintren, kepala djenggot, gardoe

Selamat mencoba...

Referensi :
https://www.nibble.id/sejarah-teh-indonesia-si-harum-hasil-tanam-paksa/

Aplikasi WAZE ?


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata kebablasan adalah terlewat dari batas atau tujuan yang sudah ditentukan. Arti lainnya dari kebablasan adalah keterlaluan. Istilah dari saduran bahasa Jawa ini yang saya pakai pada saat saya akan pulang menuju rumah. Pengalaman yang unik dan lucu yang mungkin saya akan kenang dengan rekan-rekan sekantor. Kami bablas tidak tau arah menuju ke Jawa Tengah di tengah tol Kota Surabaya Jawa Timur. Biasanya kalau tersesat atau kebablasan itu karena sedang berada di jalan sepi, di daerah terpencil, tidak ada sinyal dsb. Ini berbeda, saya dan rekan sekantor tidak tau arah ditengah ramainya jalan tol kota. Tidak sedianya papan petunjuk arah yang tepat (menurut versi kami hehehe) dan bukan akamsi alias anak kampung sini (asli Jatim) membuat tambah bingung. Akhirnya dengan membuka aplikasi Google Map kami berupaya mencari petunjuk jalan. Belum puas dengan aplikasi tersebut maka saya inisiatif memakai aplikasi Waze, menurut info aplikasi ini lebih valid dan bisa dipahami dengan tepat. 

Apa itu Waze (baca:weiz)
Disadur dari berbagai info Aplikasi Waze didirikan untuk pertama kalinya pada tahun 2008 di Israel oleh Uri Levine, ahli perangkat lunak Ehud Shabtai, dan Amir Shinar. Perusahaannya, pertama kali dikenal dengan nama Linqmap. Pada bulan Desember 2011, perusahaan ini sudah mempekerjakan sebanyak 80 orang pegawai, dimana 70 orang berlokasi di Ra'anana, Israel dan 10 orang berlokasi di Palo Alto California, Amerika Serikat. Waze adalah sebuah piranti lunak navigasi gratis untuk perangkat telepon genggam dan Tablet PC yang memiliki GPS. Saat ini Waze mendukung perangkat dengan iOS (iPhone/iPad), Android, Windows Mobile, Symbian dan BlackBerry. Waze bisa diunduh dari negara manapun di dunia termasuk Indonesia, namun peta dasar untuk Indonesia belum tersedia sehingga kontribusi pengguna sangat diutamakan. Berbeda dengan piranti lunak navigasi umumnya, Waze memberikan informasi dan peta berdasarkan masukan komunitas pemakainya. Informasi mengenai kecelakaan, kemacetan jalan, polisi, bahaya berdasarkan kondisi nyata yang dilaporkan para penggunanya. Pengguna Waze yang juga disebut wazers juga bisa melakukan pemutakhiran peta, pemberian nomor rumah/bangunan, penandaan lokasi secara pribadi dan langsung. Waze juga mempunyai fasilitas ngobrol (chat), memberikan poin untuk setiap kegiatan yang dilakukan seperti menjelajah, memutakhirkan peta dan peristiwa khusus lainnya. Dengan demikian Waze adalah gabungan dari aplikasi navigasi dengan jejaring sosial Apa Perbedaan Google Maps dan Waze? Disadur dari berbagai sumber aplikasi Google Maps sudah lama dikenal sebagai standar emas dalam urusan navigasi karena menyediakan petunjuk arah berkualitas tinggi lebih dari sekadar mengemudi. Bahkan, juga mendukung petunjuk arah untuk berjalan kaki, bersepeda, hingga transportasi umum. Didirikan tahun 2005, Google maps jadi salah satu platform pemetaan paling awal dan memiliki hampir 130 juta pengguna lebih banyak dibanding Waze untuk wilayah AS saja. 

Di sisi lain, Waze adalah aplikasi yang murni berfokus pada pengemudi yang didirikan tahun 2008 dan diakuisisi oleh Google Maps lima tahun kemudian. Awalnya, Google disinyalir merogoh kocek hingga 1,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 12,7 triliun untuk mengakuisisi perusahaan asal Israel tersebut. Namun, berdasarkan dokumen tersebut, diketahui bahwa Google tidak mengeluarkan uang sampai 1 miliar dollar AS. Google, seperti dikutip dari BGR, Senin (29/7/2013), ternyata membayar uang sebesar 966 juta dollar AS atau sekitar Rp 10,2 triliun. Dalam dokumen tersebut, Google juga diketahui telah membeli 7 perusahaan kecil lainnya selama kuartal kedua tahun 2013. Untuk semua perusahaan tersebut, Google mengeluarkan uang sebesar 53 juta dollar AS. Google resmi mengakuisisi Waze pada pertengahan bulan Juni 2013 yang lalu. Untuk membeli perusahaan tersebut, Google mengalahkan beberapa perusahaan besar lainnya, seperti Facebook, Apple, dan Nokia. 

Kita bisa melihat perbandingannya sebagai berikut: 

  • Waze berbasis komunitas, Google Maps lebih berbasis data. 
  • Waze banyak memberikan informasi hanya untuk mobil, sementara Google Maps menawarkan petunjuk arah berjalan kaki, mengemudi, bersepeda, dan transportasi umum. Mereka juga punya fitur “Jelajahi” bawaan yang memungkinkan pengguna melihat acara, ulasan, foto, tempat menarik, dll. Bahkan ada mode “tampilan jalan” untuk melihat berbagai hal di permukaan jalan. 
  • Waze butuh koneksi data, Google Maps tersedia offline. 
  • Google Maps menyertakan data bisnis seperti menu, jam buka, dan nomor telepon, sedangkan Waze tidak. 
  • Waze menawarkan info waktu nyata seperti penutupan jalan, bahaya di jalan raya, peringatan lalu lintas, dan kondisi lalu lintas waktu nyata berdasarkan data pengemudi. Google Maps baru mulai memasukkan beberapa fitur ini baru-baru ini. 
  • Google Maps menggunakan antarmuka navigasi tradisional, sedangkan Waze menawarkan antarmuka yang ramping dan minimal menggunakan bahasa desain terbaru. 
  • Google Maps cukup mendasar, Waze menawarkan penyesuaian tingkat tinggi (termasuk suara selebriti!) 
  • Singkatnya, Google Maps adalah alat navigasi yang sederhana namun kuat yang memilih rute tercepat dan paling efisien. 

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa pemanfaatan aplikasi waze memiliki motif dan manfaat yang berbeda beda bagi penggunanya namun dari seluruh informasi ditemukan motif dan manfaat utama yaitu untuk menghindari kemacetan. Pada awalnya pengguna aplikasi waze ini tertarik untuk mencoba aplikasi baru yang menggabungkan sistem GPS dan media sosial namun karena kelebihan aplikasi ini yang dapat memberikan informasi lalu lintas secara real time maka pengguna lebih memilih aplikasi waze dibandingkan dengan aplikasi traveling serupa sebagai alat bantu perjalanan mereka.

Referensi :
https://tekno.kompas.com/read/2018/02/20/19250097/membandingkan-google-maps-dengan-waze-mana-lebih-baik-?page=all

CHINA MELUNCURKAN SATELIT 6G PERTAMA DI DUNIA

Ada istilah tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China. Ya istilah itu ternyata masuh relevan hingga sekarang. Sempat dijuluki terbelakang dan tak berkembang, Negara Tirai Bambu kini menjelma sebagai pesaing serius Amerika Serikat dalam hal teknologi dan ekonomi. China sebagai negara produsen barang palsu pun diakui oleh pendiri sekaligus CEO Gao Fed Advisory Company, Edward Tse.

"China telah mulai belajar, berkembang, ketika kami (China) menyadari dunia berubah. Jadi langkah awal ialah melihat apa yang ada di luar negeri dan kita tiru." China melihat terdapat peluang inovasi. "Butuh sekitar 10 tahun perubahan dari negara peniru hingga seperti sekarang ini, negara inovatif," ujar Edward. 

Disadur dari berita di Kompas.com. Di saat gelombang teknologi 5G baru datang di sebagian negara, China telah meluncurkan satelit untuk menguji coba jaringan 6G. Satelit yang diluncurkan pada Jumat (6/11/2020) dari Taiyuan Satellite Launch Center, sebelah utara provinsi Shanxi itu diklaim sebagai yang pertama di dunia. Satelit tersebut akan menjadi transceiver link untuk uji coba teknologi terahertz (THz) pertama. "6G mengombinasikan jaringan komunikasi satelit dengan jaringan komunikasi di darat," kata Professor Xu Yangsheng, akademisi di Chinese Academy of Engineering dan direktur Satellite Technology Research Institute. Dari berita itu kita menyimpulan bahwa China telah melampau batas yang tidak diperkirakan sebelumnya. Padahal di negara kita belum tentu semuanya bisa menggunakan teknologi 5G. 

Sejarah
Disadur dari berbagai sumber berita yang ada. Sejarah 6G tentu tidak bisa lepas dari penerapan generasi pertama atau 1G, yang pertama kali diperkenalkan di Jepang pada tahun 1979 oleh Nippon Telegraph and Telephone (NTT). Dilanjutkan kemudian di 1983, Amerika Serikat menyetujui operasional 1G dengan ponsel Motorola DynaTac sebagai ponsel pertama yang dipakai secara luas. 

Setelah era 1G, jaringan selular 2G dengan standar GSM diluncurkan di Finlandia pada 1991. Suara via ponsel menjadi lebih jernih dan selain itu, untuk pertama kalinya orang bisa mengirimkan SMS, gambar, pesan bahkan MMS (multimedia messages) dari ponsel. 

Pada awalnya, kecepatan transfer 2G hanya sekitar 9,6 kbits/s. Pada akhir eranya, kecepatan 40 kbit/s tercapai dan koneksi EDGE menawarkan kecepatan sampai 500 kbit/s. Era 2G membuat pemakaian ponsel semakin merebak. Berlanjut ke 3G yang pertama kali rilis di Jepang di 2001 oleh NTT DoCoMo. Kapabilitas transfer datanya meningkat 4 kali lipat dari 3G. Layanan baru seperti video call, video streaming sampai voice over IP makin merebak. Tahun 2002, BlackBerry diluncurkan dengan bermacam fitur powerful pada saat itu yang dimungkinkan karena adanya jaringan 3G. 

Peluncuran iPhone pada tahun 2007 menandai akhir era 3G untuk menuju ke 4G, karena kapabilitas jaringan perlu dipercanggih seiring era smartphone. Pertama kali 5G diterapkan adalah di Swedia dan Norwegia pada tahun 2009 dengan standar Long Term Evolution (LTE) 4G. Berbagai negara kemudian melancarkannya, membuat video streaming kualitas tinggi menjadi hal umum. User dapat mengakses internet dengan kecepatan tinggi. 

4G saat ini merupakan standar telekomunikasi mobile dunia, namun ternyata belum semua area dapat menikmatinya. Walau begitu, kemajuan teknologi tak dapat dibendung dan lahirlah 5G. Tahun 2012, studi 5G sudah dilakukan di negara seperti Jepang, Amerika Serikat dan Inggris. Tahun 2014, perusahaan seperti Samsung dan Huawei memulai riset 5G. Hingga akhirnya pada tahun 2017, 77 operator di 49 negara telah melakukan trial jaringan generasi baru ini. Berlanjut setahun kemudian, beberapa negara mulai meluncurkan jaringan 5G secara terbatas di lokasi tertentu. Korea Selatan pun meluncurkan trial 5G pada Olimpiade Musim Dingin 2018. Hingga akhirnya negeri ginseng ini menjadi negara pertama yang mengkomersialkan 5G di 2019. 

Pada saat ini, 5G sudah tersedia secara terbatas di sekitar 34 negara dan tentu akan semakin meluas. Terlebih beberapa vendor besar telah meluncurkan smartphone 5G dan lambat laun banderolnya kian terjangkau.Selain China negara-negara lain pun mulai mengembangkan 6G seperti Inggris, Finlandia, dan Korea Selatan. Inggris mendirikan pusat inovasi khusus untuk mengembangkan 6G di University of Surrey yang menjadi pusat inovasi kedua terkait 6G, selain Finlandia. Pusat inovasi ini berhasil mengembangkan teknologi 5G sejak 2013, dan kini universitas tersebut ingin memperluas cakupannya. "Sekarang adalah waktunya bagi universitas serta industri di Inggris memulai perjalanan bersama menuju 6G," kata wakil rektor University of Surrey Profesor Max Lu dikutip dari Daily Mail pada Kamis (12/11).

Di pusat inovasi itu, para peniliti memfokuskan pengembangan 6G dengan tujuan agar jaringan seluler dapat menyatukan dunia fisik dan dunia virtual. Direktur Pusat Inovasi 6G University of Surrey Profesor Rahim Tafazolli mengatakan, jaringan 5G memungkinkan virtual reality atau augmented reality, namun visual yang ditampilkan yakni video tiga dimensi. "Jadi apa yang kami lakukan di 6G, kami menjadikannya empat dimensi, dan dimensi keempat adalah indera manusia," katanya.

Posisi Indonesia 
Menurut Kepala Riset dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Basuki Yusuf Iskandar, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum mengadopsi jaringan seluler 5G. “Kita jangan gagap teknologi. Bukannya mau jadi late adopter (pengadopsi lambat), tapi rational adopter (pengadopsi rasional),” ia menuturkan, Selasa (15/8/2017), usai seminar bertajuk “5G: Policy, Technology, and Regulatory Perspective”, di Mercantile Athletic Club, WTC 1, Jakarta. “Sebaiknya kita lihat dulu negara-negara lain. Biarkan mereka adopsi lebih awal supaya kita bisa belajar dan lebih siap,” ia menambahkan.

Harus diakui, Untuk sampai pada implementasi 5G di Indonesia, banyak persiapan yang ditempuh. Selain dari sisi infrastruktur, bisnis model, dan investasinya, terutama untuk spektrum dan peralatannya. Namun hal itu bukan berarti, regulator tidak memiliki road map yang sangat penting dalam memandu penerapan 5G di Indonesia. Sesuatu yang tidak pernah dibeberkan secara terbuka. Sumirnya implementasi 5G di Indonesia, sesungguhnya sudah disampaikan oleh berbagai lembaga-lembaga internasional. Moody Internasional misalnya, dalam kajian yang diterbitkan pada Juni 2019, menilai bahwa Indonesia akan tercecer dalam perlombaan 5G. Laporan Moody tersebut mencakup 20 perusahaan layanan telekomunikasi di 11 negara di Asia Pasifik, dan mengklasifikasikan negara-negara ini menjadi pelopor, pengguna awal, dan pengguna akhir. Laporan ini melihat 5 (lima) faktor : spektrum berlisensi, infrastruktur jaringan, uji coba teknologi, dukungan peraturan dan kebijakan, serta permintaan potensial untuk 5G di negara ini.

Dengan kondisi yang ada, Indonesia diperkirakan baru bisa menerapkan teknologi 5G dalam waktu tiga tahun lagi. Saat ini posisi kita mau tidak mau harus beradaptasi dengan kemajuan dan perkembangan jaman. Apalagi di tengah pendemi global yang belum menentu, yang dimana teknologi akan selalu ada ditengan kehidupan manusia. Bagaimana sikap kita? ketergantungan atau memanfaatkannya...

Referensi : 
https://tekno.kompas.com/read/2020/11/10/15210007/china-luncurkan-satelit-untuk-uji-coba-jaringan-6g.) 
http://tekno.kompas.com/read/2017/08/15/15052687/menakar-kesiapan-indonesia-menyambut-jaringan-5g?page=2

Pelayanan atau Si Mulut Besar

Arti kata pelayanan (serve) di dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah : 1. perihal atau cara melayani. 2. usaha melayani kebutuhan orang ...